BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sunday, 26 April 2015

Sepatu Kaca Terakhir Cinderella

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Cinderella mendesah. Jam 12 malam, saatnya untuk pulang. Pangeran menatapnya bingung. Apa Cinderella akan lari seperti di pesta-pesta sebelumnya? Jawabannya tentu saja iya. Cinderella mengangkat gaun panjangnya. Sedikit terburu, dia lari meninggalkan Pangeran yang mengajaknya berdansa.

Kalau boleh jujur, Cinderella sudah lelah harus berlari saat jam 12 malam di setiap pesta yang didatangi. Meminjam gaun dari usaha laundri Mama tirinya dan mengembalikan keesokan harinya tidak lah mudah. Terlebih saat ada mata yang memerhatikan gaun yang dipakainya. Bisa gawat kalau ketahuan pemiliknya!

Menengok ke belakang, Pangeran masih mengejarnya. Melangkah ke turunan anak tangga, Cinderella diserang rasa panik. Cerita sebelumnya, di ujung anak tangga sepatunya akan terlepas. Sedangkan sepatu yang dipakainya saat ini adalah sepatu kaca terakhirnya.

Tepat di ujung anak tangga tukang ojek langganannya menjemput. Buru-buru Cinderella naik diboncengan sang ojek. Dilihatnya Pangeran terduduk kelelahan mengejarnya.

Cinderella tertawa saat motor sang ojek menjauh dari istana. Belum saatnya Pangeran mendapatkan dirinya. Diliriknya sepasang sepatu kaca yang masih bertengger manis di kakinya. Sepatu kaca bertali hasil rancangan Cinderella sendiri.





#MizanCreativeAcademy #CERMAT

***

Note:

Sebelumnya saya pernah menulis FF Cinderella http://jiahjava.blogspot.in/2013/11/sepatu-kaca-cinderella.html. Sekarang saya menulis lagi Cinderella dalam versi yang berbeda :uhuk :smile :hai.

Sumber Gambar:
@penerbitmizan dan http://gladisco.lintas.me/article/fashion-and-beauty/yuk-intip-9-model-sepatu-cinderella-rancangan-desainer-dunia

Friday, 24 April 2015

Prompt #75 - Wanita Cantik di Matamu

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Brakkk! Kubanting pintu kamar. Duduk di depan meja rias sambil mengamati wajahku. Kenapa mereka selalu mengejekku? Wajahku memang tidak secantik Mirna si Kembang Desa. Bekas bibir sumbingku masih ada. Tapi bukan berarti mereka bisa mengejekku kan?

"Ada apa?" Mas Zidan menghampiriku hati-hati sambil meraba sekelilingnya.

"Kenapa Mas Zidan memilihku? Bukannya si Mirna lebih cantik daripada aku? Dengan kekayaan Mas, harusnya Mas bisa pilih gadis mana pun."

"Bagi Mas, kamu perempuan paling cantik, sungguh!"

"Mas bohong!" kataku terisak.

Mas Zidan meraba wajahku. Dihapusnya air mata yang mengalir di pipiku. Hati-hati Mas Zidan menyentuhkan tangannya di dadaku.

"Mas lebih suka hatinya yang cantik daripada wajahnya. Mas nggak akan pernah lihat wanita lain deh!"

"Gombal!" ujarku sambil tertawa, memukul pelan dadanya.

Ya, Mas Zidan tidak akan pernah melihat wanita lain.

"Mas boleh berbohong, aku akan percaya. Tapi, jangan tinggalin aku," kataku manja.

"Siap Bos! Mas mau wudhu, tolong siapkan Al-Qur'an Braillenya. Kita ngaji sama-sama ya!"

***

Notes:
Pertama kali ikut Prompt lagi :uhuk. Nggak ngetwist. Ya sudahlah :uhuk :hepi :hai.

Prompt #75 MFF

Sunday, 19 April 2015

Malam Bersama Bapak

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

***

Bapak mencengkeram pergelangan tanganku kuat-kuat. Kantor polisi sudah tidak terlihat lagi. Waktu sudah hampir tengah malam tapi jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan.

Aku berusaha melepas tangan Bapak tapi tak bisa. Harusnya aku senang karena akhirnya Bapak 'menggandeng' tanganku. Nyatanya matanya menyimpan amarah. Bapak baru saja mengeluarkanku dari penjara, itu intinya.

"Aku bukan anak kecil lagi!" teriakku.

"Kau anak ingusan tau apa?" Bapak menghempaskan tanganku,

"Sekarang, mana barang yang kau curi?"

"Tidak ada!"

Bapak menendang kakiku. Aku jatuh terduduk.

"Jangan bohong! Kau jual ke mana barang curian itu?"

"Tidak ada!"

Bug! Aku merasakan perih di ujung bibirku akibat bogem mentah Bapak.

"Apa ini yang diajarkan Gurumu di sekolah? Mau jadi apa kau nanti?"

"Anak polisi jadi polisi, anak guru jadi guru, anak pencuri jadi pencuri," kataku acuh.

"Bapak tidak pernah mengajarimu jadi pencuri!"

"Bapak pencuri! Nyuri hak orang lain! Malak! Jadi preman pasar sama dengan pencuri!" teriakku frustasi.

Aku berlari meninggalkan Bapak. Percuma selama ini aku jadi anak baik. Kata orang, anak preman sama dengan preman. Buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Kutengok Bapak di belakang. Matanya menatapku sedih. Setetes air mata turun di pipinya. Aku menganga sementara Bapak memalingkan muka.

***

#Cermat @PenerbitMizan